Kami sedang menyiapkan yang Anda perlukan

BeritaMobil Listrik
18 Februari 2026285Pembaca
Bagikan :
Pasar kendaraan listrik di Indonesia mengalami perkembangan pesat dalam beberapa tahun terakhir.
Menariknya, kini pembahasan tidak hanya soal pertumbuhan EV saja, tetapi juga meningkatnya jumlah konsumen yang kembali beralih ke mobil konvensional. Pergeseran ini banyak dilakukan melalui tukar tambah EV di Indonesia.
Hal ini juga tercermin dari riset global yang dilakukan pada 2024, sekitar 29% pemilik mobil listrik (EV) di dunia mempertimbangkan kembali ke mobil konvensional (BBM/ICE), bahkan angkanya mencapai 46% di Amerika Serikat.
Alasan utamanya berkaitan dengan keterbatasan infrastruktur pengisian daya publik (35%), stres saat melakukan pengisian daya (21%), serta kendala tidak bisa mengisi daya di rumah.
Data tersebut menunjukkan bahwa memiliki EV bukan hanya soal ikut ikut tren, tetapi juga soal mempertimbangkan ketersediaan dan kesiapan ekosistem.
Tren ini tentunya tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor yang mendorong pergeseran perilaku konsumen dalam memandang kepemilikan kendaraan listrik, termasuk pertimbangan akan efisiensi hingga terkait finansial.
Fenomena tukar tambah EV di Indonesia menunjukkan bahwa pasar kendaraan listrik mulai memasuki fase yang lebih matang.
Konsumen tidak lagi sekadar mengikuti tren, tetapi mulai mengevaluasi kembali kendaraan yang digunakan sesuai kebutuhan dan kondisi saat ini.
Berikut beberapa alasan utama yang mendorong konsumen melakukan trade in mobil listrik mereka:
Banyak konsumen yang membeli EV di tahap awal adopsi kini mulai menyadari apa sebenarnya yang menjadi kebutuhan mereka.
Beberapa memerlukan kendaraan dengan jangkauan lebih jauh, kapasitas lebih besar untuk keluarga, atau fitur keselamatan yang lebih canggih.
Infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik di Indonesia masih dalam tahap perkembangan.
Tidak semua area memiliki akses charging station yang memadai, membuat beberapa pemilik EV mengalami kesulitan dalam penggunaan untuk mobilitas jarak jauh.
Di sisi lain, biaya perawatan kendaraan elektrik tertentu juga bisa lebih tinggi dibanding perkiraan awal, terutama jika suku cadang dan teknisi terlatih belum tersedia secara luas.
Harga mobil listrik bekas cenderung lebih cepat berubah dibanding mobil konvensional, seiring hadirnya model baru dengan teknologi baterai dan fitur yang lebih canggih.
Kondisi ini membuat sebagian konsumen memilih melakukan tukar tambah di waktu yang tepat untuk mengamankan nilai kendaraan mereka sebelum terjadi penyesuaian harga lebih lanjut di pasar.
Itulah beberapa alasan yang membuat tren tukar tambah EV semakin meningkat di Indonesia.
Jika Anda termasuk pemilik kendaraan listrik yang mempertimbangkan untuk upgrade, ini adalah momentum yang tepat untuk beralih ke mobil baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan Anda melalui Trade In EV Festival.
Melalui program ini, Anda dapat melakukan tukar tambah EV lama non Toyota ke mobil Toyota baru dengan proses yang mudah.
Selain itu, Anda juga akan mendapatkan cashback sebesar Rp10 juta yang membuat proses penggantian kendaraan menjadi lebih menguntungkan.
Periode tukar tambah EV ini terbatas. Untuk memaksimalkan keuntungan tukar tambah Anda, pertimbangkan juga untuk menggunakan ACC sebagai solusi pembiayaan kendaraan.
Dapatkan bunga ringan mulai dari 4,20% yang membuat rencana upgrade kendaraan Anda semakin nyaman dan terjangkau.
Pengajuan program tukar tambah EV ini juga sangat mudah.
Anda bisa menghubungi ACC melalui sosial media Instagram dan TikTok di @acconeid, mengirim pesan WhatsApp ke nomor 0813-1825-485, atau langsung mengunjungi cabang ACC terdekat.
Selain program tukar tambah EV, ACC juga menyediakan berbagai pilihan produk pembiayaan mobil baru lainnya yang bisa Anda temukan di website ACC ONE.
Tunggu apa lagi? Ini adalah kesempatan emas untuk upgrade EV lama Anda ke mobil Toyota baru yang lebih modern.
#mobillistrik
#mobilbaru
#mobil
#toyota
Berita Lainnya
Lihat semua